Senin, 13 Juli 2009

Komunitas penulis usu...baru tau...kemana aja si boss!

jadi pingin ikutan...
Sejarah Kopisusu PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator
Saturday, 17 January 2009

Dimulai ketika Fakultas llmu Sosial dan Politik (FISIP) dalam tim kerja Forum Imajinasinya mengadakan lomba penulisan yang melombakan penulisan puisi, cerpen dan esai. Tapi tunggu dulu! Di sini belum ada yang namanya Kopisusu. Event ini hanya merintis pemikiran-pemikiran kecil untuk membentuk tempat ngumpul mahasiswa-mahasiswa yang doyan nulis yang ternyata, banyak juga lo jumlahnya. Beberapa hari setelah itulah Adela Eka Putra Marza, mahasiswa Komunikasi Fisip, berinisiatif untuk mengundang penulis-penulis (biar keren sedikit titelnya) yang ikut dalam Lomba Imajinasi Fisip untuk bertemu. Awalnya hanya untuk saling tukar pikiran seputar tulis menulis. Namun, ternyata pemikiran untuk membentuk sebuah organisasi kepenulisan pun muncul.

Tanggal 6 mei 2007, Adela Eka Putra Marza (FISIP), Mayasari (Hukum) dan Arizona Maha (Ekonomi) mengawali cerita akan organisasi penulis independen yang berorientasi pada mahasiswa-mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Dalam pembicaraan mereka, bentuk komunitas independen ini ternyata dinilai lebih cocok untuk mewujudkan tujuan terbentuknya wadah ini. Yaitu sebagai tempat menumbuh kembangkan minat dan bakat menulis, terutama bagi mahasiswa USU. Setelah pemilihan nama yang cukup rumit. Akhirnya terucaplah (dalam dialek resmi ‘dicetuskan’) Komunitas Penulis USU yang disingkat KOPISUSU. Inilah hari lahirnya Kopisusu. Sejumlah agenda disiapkan. Tindakan-tindakan awal dilakukan, terutama pemberitahuan gagasan ini pada penulis lain yang mengikuti Lomba Imajinasi FISIP.

Pertemuan selanjutnya, dua belas mahasiswa USU berkumpul untuk mendengarkan gagasan yang disampaikan Ade, Maya dan Zona. Tanggapan positif diberikan oleh semua yang hadir. Dukungan diberikan, dan akhirnya semua sepakat untuk mendukung ide tersebut. Pada tanggal ini juga kepengurusan KOPISUSU terbentuk.

Bentuk kegiatan kopisusu berkaitan dengan pengembangan kemampuan menulis, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Kpisusu juga membuka training-training yang bekerjasama dengan penulis-penulis senior yang telah eksis dan menjalin hubungan baik dengan kopisusu.

sejarah HMI ( kutipan )

ntah karena ingin mengetahui saja atau merasa tertarik....tidak ada yg harus disesalkan...


SEJARAH BERDRINYA HMI



Latar Belakang Sejarah Berdirinya HMI

Berdirinya suatu organisasi pasti mempunyai latar belakang satu sama lain yang berbeda, namun justru dengan perbedaan itulah yang menempatkan organisasi itu pada ciri-ciri khusus.Menurut Agussalim Sitompul, ada 3 faktor yang melatar belakangi berdirinya HMI yaitu :
· situasi Negara Republik Indonesia
· situasi Umat Islam Indonesia
· situasi Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan
Saat – saat Berdirinya HMI

Gagasan untuk mendirikan HMI telah berulang kali diadakan pertukaran pikiran. Banyak mahasiswa yang masih enggan bahkan tidak sedikit yang menentang berdirinya organisasi ini. Namun yang mendukung ide Lafran Pane hari ke hari bertambah terus, dan semakin menemukan bentuknya di awaltahun 1947. Dari usaha yang dilakukan, akhirnya Lafran Pane menentukan sikap dan berkesimpulan bahwa organisasi itu harus berdiri : “siapa yang mau menerima organisasi mahasiswa ini, itu sajalah yang diajak, dan yang tidak setuju biarlah nereka terus menentang toh tanpa mereka organisasi akan berjalan.”
Setelah mengalami berbagai hambatan dan rintangan selama lebih kurang 3 bulan maka mahasiswa – mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta telah berketetapan hati memutuskan :
1. Hari Rabu Pon 1984, 14 Rabiul Awal 1366 H, bertetapan 5 Februari 1947 M, menetapkan berdirinya organisasi “Himpunan mahasiswa Islam” disingkat HmI, yang bertujuan :
· Memepertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
· Menegakkan dan mengembangkan Agama Islam
2.Mengesahkan Anggaran Dasar HmI. Adapun Anggaran Rumah Tangga akan dibuat kemudian.
3.Membentuk Pengurus HmI dengan susunan :
Ketua : Lafran Pane
Wakil Ketua : Asmin Nasution
Penulis I : Anton Timur Jailani
Penulis II : Karnoto
Bendahara I : Dahlan Hussein
Bendahara II : Maisarah Hilal
Anggota : Suwadi Yusdi Ghozali
Mansyur
Sekretariat HmI dipusatkan di Asrama Mahasiswa, Jl. Soetyodinngratan 5 (Jl. P. Senopati 5 Yogyakarta Sekarang)
Mengenai pendiri – pendiri HmI, Agussalim menulis sesuatu yang baru, lain dari yang lain. Untuk menentukan pendiri – pendiri HmI, Agussalim berpedoman pada kenyataan yang ada, bahwa HmI didirikan oleh mahasiswa STI yang hadir saat itu. Karena waktu didirikan di kampus STI, sebenarnya adalah jam kuliah Tafsir dari Bapak Hussein Yahya yang diminta Lafran Pane umtuk rapat mendirikan HmI. Dengan dasar pemikiran tersebut maka yang disebut pendiri HmI adalah mahasiswa STI yang hadir pada rapat didirikannya HmI yaitu :
· Lafran Pane
· Dahlan Husein
· Suwali
· Mansyur
· M. Anwar
· Marwan
· Tayeb Razak
· Bidron Hadi
· Karnoto
· Maisaroh Hilal
· Yusdi Ghozali
· Siti Zaenah
· Hasan Basri
· Zulkarnain
· Toha Mashudi
Tentang pemrakarsa pendiri HmI, sejak awal berdirinya HmI terdapat kesepakatan bahwa satu – satunya pemrakarsa pendiri HmI adalah Lafran Pane. Kesepakatan ini diperluas denga ketetapan Kongres Ke 11 HmI di Bogor No. XII/XT/74, tanggal 29 Mei 1974

sejarah FK USU ( kutipan)

haghag....ngutip lagi ngutip lagi...

SEJARAH FAKULTAS KEDOKTERAN USU

MASA PERSIAPAN

Maksud untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Medan ini telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat di Medan khususnya, di Sumatera Utara umumnya, sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, demikian Dr.Achmad Sofian pernah menulis. Untuk itu Dr.Pirngadi, Dr.Tengku Mansoer, Dr.M.Amir dan beberapa orang lainnya telah bekerja ke arah ini, tetapi maksud dan hasrat itu tidak disetujui oleh Pemerintah Belanda pada saat itu, dianggap bahwa satu Perguruan Tinggi Kedokteran yang telah didirikan oleh Pemerintah Belanda di Jakarta telah cukup buat Indonesia.

Sewaktu Perang Dunia II berkecamuk di Eropa dan Pemerintah Belanda telah mengungsi ke Inggris, ada juga maksud Pemerintah Belanda untuk mengubah NIAS (Nederlancsh Indische Aartsen School) di Surabaya menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran yang kedua di Indonesia, namun maksud tersebut tidak dapat diwujudkan, karena pada waktu itu Indonesia telah diduduki oleh Jepang.

Di zaman pendudukan Jepang beberapa orang terkemuka di kota Medan, seperti Dr.Pirngadi, Dr.Tengku Mansoer dan lain-lain telah membuat rancangan Perguruan Tinggi Kedokteran sekali lagi, namun maksud ini juga tidak dilanjutkan.

Pada tahun 1946, masih dalam pergolakan sesudah kemerdekaan diproklamirkan, maksud ini muncul lagi ke permukaan. Ketika Mr.Teuku Moh.Hasan menjadi Gubernur Propinsi Sumatera telah pula diangkat Dr.Moh.Jamil yang berkedudukan di Bukit Tinggi sebagai ketua dari sebuah panitia yang ditugaskan untuk mempelajari kemungkinan didirikannya sebuah perguruan tinggi di Sumatera. Panitia ini antara lain ditugaskan untuk menentukan jenis serta tempat fakultas yang akan didirikan.

Panitia tersebut telah mengusulkan untuk mendirikan sebuah Fakultas Kedokteran. Untuk menentukan tempat Fakultas Kedokteran yang akan didirikan, dikirimlah Dr.Mohd.Jamil ke Pematang Siantar guna berembuk dengan beberapa pemuka masyarakat dan dokter-dokter yang ada di daerah Sumatera Utara. Pada waktu itu amat besar kemungkinan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Kota Medan, tetapi malang, hal ini tidak dapat dilaksanakan berhubung dengan terjadinya clash pertama tahun 1947.

Setelah peralihan kedaulatan, kiranya hasrat untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di kalangan masyarakat di Sumatera Utara tidak pernah hilang. Pada awal 1950, Dr.T.Mansoer, wali Negara Sumatera Timur (Negara Bagian dalam RIS) meminta kepada Inspektur Kesehatan Sumatera Timur untuk mulai melengkapi Rumah Sakit Kota Medan dan kalau perlu menjadikan sebuah Rumah Sakit Umum, guna mendukung rencana tersebut.

Dr.A.Sofian ditugaskan untuk mengajukan rencana pembangunan Rumah Sakit Kota agar Rumah Sakit tersebut selanjutnya dapat dijadikan Rumah Sakit Perguruan Tinggi. Setelah rencana itu dimajukan, diadakan suatu sidang yang diketuai oleh Inspektur Kesehatan Negara Sumatera Timur. Peserta yang hadir pada waktu itu adalah Dokter Pemimpin Rumah Sakit Kota, Pemimpin Laboratorium Patologi, Ketua Persatuan Dokter Indonesia, Pemimpin Rumah Sakit Paru-Paru (Dr.Gerlach) dan beberapa tokoh lainnya. Akhirnya diambil keputusan untuk menjadikan Rumah Sakit Kota itu menjadi Rumah Sakit Umum yang diurus langsung oleh Pemerintah Negara Sumatera Timur.

Dalam pada itu pergolakan politik di Indonesia sangat cepat jalannya dan pada tanggal 17 Agustus 1950 semua Negara Bagian dari RIS lenyap dengan berdirinya Negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan yang kedua. Sehubungan dengan hal itu, Rumah Sakit Umum yang terletak di Jalan Serdang ( Jl. Prof.H,M Yamin, SH ) Medan diurus oleh Pemerintah Pusat/Kementrian Kesehatan di Jakarta.

Di Sumatera Utara ditempatkan Gubernur Sarimin sebagai Gubernur Sumatera Utara, tak lama kemudian itu digantikan oleh Abdoel Hakim. Rupanya maksud mendirikan Fakultas Kedokteran belum dilupakan begitu saja. Oleh beberapa kalangan masyarakat di Sumatera Utara, antara lain Dr.T.Mansoer, telah diajukan usulan kepada Gubernur dan juga nota oleh Dokter Pemimpin Rumah Sakit Umum di Medan dalam triwulan keempat tahun 1951. Hal-hal ini menjadi pendorong kepada Gubernur untuk mengambil inisiatif mengajukan kepada rakyat di Sumatera Utara untuk mengumpulkan dana guna mendirikan sebuah Universitas di daerah ini.

Penentuan jenis fakultas yang akan didirikan lebih dahulu, diserahkan kepada suatu panitia yang akan segera dibentuk, tanpa menunggu reaksi dari masyarakat dan tanpa menunggu hasil pemungutan sumbangan dari rakyat. Oleh Gubernur, dengan surat keputusannya tanggal 31 Desember 1951 No.94/XII/PSU dibentuk sebuah Panitia Persiapan untuk mendirikan Perguruan Tinggi yang berkedudukan di Kota Medan.

Di dalam Panitia itu duduk :

1.
Dr.R.Soemarsono, Kepala Jawatan Kesehatan Rakyat Propinsi Sumatera Utara, sebagai Ketua merangkap anggota.
2.
a.
Dr.Ahmad Sofian, Dokter Pemimpin Rumah Sakit Umum di Medan
b.
Ir.Danunagoro, Kepala Jawatan Pekerjaan Umum dan Tenaga Propinsi Sumatera Utara di Medan,
c.
Mr.Djaidin Poerba, Walikota Medan, masing-masing sebagai anggota.
3.
Tengku Oesman Fachroeddin, pegawai pada Kantor Gubernur Sumatera Utara, sebagai Sekretaris Panitia.

Di samping itu Panitia telah mengajukan usulan kepada Gubernur untuk mengangkat seorang wakil dari Jawatan PP dan K. Sesudah mengadakan pertemuan beberapa kali yang menunjukkan semangat kerjasama yang rapi sekali, maka pada tanggal 19 Maret 1952 Panitia tersebut mengambil suatu keputusan untuk dimajukan kepada Gubernur, yang isi ringkasnya adalah sebagai berikut :

I.
Maksud untuk mendirika sebuah Universitas di Sumatera Utara dapat diwujudkan secara berangsur-angsur.
II.
Di Medan dapat didirikan Fakultas Kedokteran mengingat faktor-faktor yang berikut :
1.
Bahan pelajaran berupa orang sakit cukup banyak dijumpai jumlah dan ragamnya di daerah ini.
2.
Di Medan ada Laboratorium Patologi yang dapat dipergunakan untuk permulaan pelajaran Biokimia, Patologi, Bakteriologi dan sebagainya.
3.
Dosen-dosen untuk berbagai cabang ilmu, kecuali ilmu preklinik, dapat didatangkan ataupun diusahakan.
4.
Sekolah SMA cukup banyak di Sumatera Utara.
5.
Perhatian murid tamatan SMA bagian B ( sekarang IPA ) cukup memuaskan untuk malanjutkan pelajaran kejuruan ilmu kedokteran dan obat-obatan. Perhatikanlah betapa banyak setiap tahun pemuda tamatan SMA yang membanjiri Fakultas Kedokteran di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya.
6.
Tanah yang cukup luas akan dapat diperoleh dari pihak kotapraja Medan.
7.
Alat-alat yang perlu untuk Fakultas Kedokteran dapat segera dipesan, berkat sumbangan dari seluruh rakyat Sumatera Utara.
8.
Uang untuk keperluan fakultas itu dapat diikhtiarkan lebih lanjut sehingga gedung yang perlu dapat didirikan segera.
III.
Fakultas Kedokteran yang dimaksud dapat dimulai dengan segera pada permulaan tahun ajaran 1952-1953, apabila :
1.
Gedung yang diperlukan telah ada atau dapat dipergunakan gedung yang segera dapat dikosongkan.
2.
Dosen-dosen untuk Fisika, Kimia, Zoologi, Botani dan Parasitologi telah diperdapat dan apabila perlu kuliah-kuliah untuk sementara dapat diberikan dalam bahasa asing. Pada waktu itu dari kalangan bangsa asing yang dianggap mampu untuk memberikan pelajaran-pelajaran tersebut pada perguruan tinggi, yang terbanyak adalah bangsa Belanda.
3.
Serentak dengan pembukaan Fakultas Kedokteran, harus diadakan perluasan Rumah Sakit Umum di Jalan Serdang Medan, sehingga kapasitasnya mencapai peling sedikit sebanyak 1000 tempat tidur. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan secepat mungkin harus didirikan sebuah rumah sakit Universitas di bagian kota yang akan ditentukan kelak.
4.
Dapat dijamin perumahan untuk dosen-dosen serta pembantunya. Harus diusahakan pula untuk menerjemahkan kuliah-kuliah ke dalam bahasa Indonesia untuk membantu mahasiswa dalam pelajarannya. Juga dianjurkan mengadakan kursur aplikasi bahasa Inggris untuk mahasiswa pada tahun pertama dan mengadakan kursus bahasa Indonesia untuk dosen-dosen asing.

Panitia itu juga telah mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi, supaya dalam tahun 1952 itu juga dapat didirikan fakultas tersebut. Sesudah anjuran Panitia diterima dengan baik, maka diambillah keputusan untuk mendirikan terlebih duhulu sebuah yayasan dengan tujuan untuk :

1.
Mengadakan perguruan tinggi tempat mendidik, untuk memperoleh ilmu pengetahuan buat memegang jabatan di kemudian hari.
2.
Memperhatikan kepentingan mahasiswa dalam arti yang seluas-luasnya.
3.
Mengumpulkan dan mengawasi keuangan untuk menutup ongkos-ongkos yang bakal diperlukan.

Yayasan itu didirikan pada tanggal 4 Juni 1952 di hadapan Notaris Soetan Pane Paroehoem di Medan diberi nama YAYASAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, yang berkedudukan di Medan.

Yayasan tersebut diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai oleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara. Telah diambil keputusan utnuk mendirikan Fakultas Kedokteran dan yayasan telah mengutus Dr.Ahmad Sofian ke Kementrian PP dan K untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Menteri pada waktu itu yaitu Prof.Bahder Djohan. Kementrian PP dan K meneruh simpati yang sangat besar akan maksud yayasan dan minat Gubernur Propinsi Sumatera Utara itu dan menjanjikan bantuan yang dapat dan mungkin diberikan oleh Pemerintah. Pemerintah menganggap maksud yayasan itu sebagai suatu eksperimen yang besar namun terlalu banyak kesulitan dan resikonya. Sungguhpun demikian Pemerintah berjanji akan menyokong usaha tersebut.

Telah diadakan juga pembicaraan yang luas dengan Menteri Kesehatan Dr.Leimena dan Sekretaris Jendralnya Dr.Pirngadi. Kementerian Kesehatan berjanji akan menyokong usaha yayasan itu dengan memperhatikan keperluan Fakultas Kedokteran seperti menempatkan tenaga yang akan dapat membentu memberikan kuliah dan lain-lain. Kementerian Kesehatan juga tidak keberatan apabika beberapa dokter Rumah Sakit Umum di Medan memberikan bantuannya. Sepulangnya utusan tersebut dari Jakarta, Dewan Yayasan USU menjadi semakin kokoh pendiriannya untuk mendirikan Fakultas Kedokteran.

Pada tanggal 30 Juni 1952 Dewan Pimpinan Yayasan USU telah mengangkat Dr.Ahmad Sofian sebagai Presiden Kurator yang diberi tugas mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran. Juga telah diputuskan untuk membuka Fakultas Kedokteran tersebut pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1952.

Setelah berembuk dengan kepala Polisi Propinsi Sumatera Utara, Komisaris Besar Darwin Karim, maka diputuskan untuk mengosongkan bangunan yang terletak di belakang gedung SMA Negeri Jalan Seram yang pada waktu itu masih dipergunakan sebagai asrama polisi. Bangunan ini sebelum Perang Dunia II dipergunakan sebagai tempat sekolah
“Neutral School” Deli Tabak Maatschappij ( Deli Mij ) memperbantukan Ir.Althuisius sebagai dosen dalam mata kuliah Kimia,dan J.C van der Meer Mohr dari Senembah Mij sebagai dosen dalam mata kuliah Biologi dan Parasitologi Umum.

Pada mulanya Ir. R van der Waal mengajar Botani kemudian digantikan oleh Ir.Tan Hong Tong. Kemudian dalam bulan Nopember 1952 Drs.C.H.D Steinmetz diangkat sebagai dosen dalam mata kuliah Fisika dan Drh.Sahar, Kepala Jawatan Kehewanan Propinsi Sumatera Utara, ditunjuk sebagai dosen Zoologi.

Di samping mendapat bantuan dari berbagai pihak, tidak kurang pula cemooh dari kritik dikeluarkan, sebab banyak orang mengira bahwa Fakultas Kedokteran itu tidak dapat didirikan secepat itu. Maklumlah pada waktu itu belum ada suatu alatpun yang dipesan ke luar negeri dan pengosongan oleh pihak polisi belum lagi dilakukan sepenuhnya. Untunglah pada permulaan bulan Agustus 1952 satu bagian telah dapat dikosongkan, sehingga dapat dipersiapkan untuk menerima tamu-tamu yang akan datang.

Dalam pada itu ruangan yang akan dipergunakan untuk belajar telah kosong dan diperbaiki/ ditata sedemikian rupa, sehingga dapat dipergunakan untuk kuliah tahun pertama Fakultas Kedokteran. Murid-murid tamatan SMA dari berbagai tempat telah pula mendaftarkan namanya, tetapi kebanyakan dari mereka itu tidak memenuhi syarat yang ditentukan oleh Kementerian PP dan K. Hanya 26 orang yang dapat diterima, diantaranya 3 orang wanita.

Pada saat itu Yayasan USU telah menunjuk Sdr.Alim gelar Soetan Maharaja Besar di Jakarta sebagai wakil Yayasan dengan maksud melancarkan hubungan antara Fakultas Kedokteran Yayasan USU dengan Kementerian-kementerian di Jakarta, (terutama Kementerian PP dan K serta Kementerian Kesehatan) dan fakultas-fakultas yang di Jawa. Beliau juga telah mewakili Fakultas Kedokteran Medan pada upacara-upacara penting di berbagai fakultas di Indonesia.

Setelah berembuk dengan Kementerian PP dan K dan Kementerian Kesehatan, ditetapkanlah oleh Yayasan pembukaan FAKULTAS KEDOKTERAN pada tanggal 20 AGUSTUS 1952, dan beberapa Menteri diharapkan dapat datang ke Medan untuk menghadiri upacara pembukaan itu.

Pada tanggal 16 Agustus 1952 Dr.Ahmad Sofian diberhentikan sebagai Presiden Kurator dan digantikan oleh Walikota Medan yang pada waktu itu adalah Sdr.A.M. Djalaluddin. Sebagai Wakil Presiden Kurator diangkat Dr.Wasidin dan sebagai anggota adalah Mr.Moh. Joesoef, Liem Ghien Giam, Tan Boen Djien, M.Gani, Asril serta Dekan Fakultas. Sebagai Sekrertaris Dewan Kurator bertindak Ny.Mr.Ani Abbas Manoppo. Sejalan dengan hal tersebut, Dewan Pimpinan telah menentukan Dewan Fakultas yang terdiri dari Dr.Ahmad Sofian sebagai Dekan, Dr.Ildrem sebagai Sekretaris serta Dr.Maas dan Dr.T.Mansoer sebagai anggota.

MASA PERKEMBANGAN

Seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran USU bahu membahu dengan pimpinan fakultas dalam membangun dan mengembangkan Fakultas Kedokteran USU yang usianya masih sangat muda tersebut.
Pada tgl. 1 September 1952, Fakultas Kedokteran USU dipimpin oleh Dr. A. Sofian sebagai Dekan, Dr. Maas sebagai Wakil Dekan dan Dr. M. Ildrem. sebagai sekretaris. Beberapa tahun berikutnya (1956) WHO memberikan bantuan alat-alat Fisiologi dan berapa tenaga pengajar dari WHO untuk Fakultas Kedokteran USU.
Pada tgl. 12 Maret 1953 Wakil Presiden Drs. Mohd. Hatta, mengunjungi Fakultas Kedokteran, dan pada tgl. 17 Mei 1954, tim dari Departemen P dan K, yang terdiri dari Prof. Dr. Djuned Pusponegoro dan Prof. R. Sarwono meninjau Fakultas Kedokteran USU serta mengharapkan agar semua staf dan mahasiswa bekerja keras dalam masa pertumbuhan dan perkembangan ini.

Dalam masa perkembangan tersebut, pada tanggal 15 Januari 1970, dilaksanakan peletakan batu pertama gedung induk FK USU di Jalan Dr. T.Mansur Medan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara, Marah Halim Harahap, dan pada tanggal 28 Desember 1970, gedung induk FK USU tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Sampai saat ini Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara telah melakukan banyak pembenahan dari seluruh komponen yang ada. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia sebagai pelaksana seluruh kegiatan yang ada di FK USU maupun pembangunan Sarana dan Prasarana dalam upaya mendukung proses belajar mengajar dilakukan secara berkesinambungan.

sejarah usu ( kutipan )

SEJARAH

Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Pendirian yayasan ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung oleh Gubernur Sumatera Utara, dengan susunan sebagai berikut: Abdul Hakim (Ketua); Dr. T. Mansoer (Wakil Ketua); Dr. Soemarsono (Sekretaris/Bendahara); Ir. R. S. Danunagoro, Drh. Sahar, Drg. Oh Tjie Lien, Anwar Abubakar, Madong Lubis, Dr. Maas, J. Pohan, Drg. Barlan, dan Soetan Pane Paruhum (Anggota)

Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah mulai sejak sebelum Perang Dunia-II, tetapi tidak disetujui oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi Kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini.

Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro, dan sekretaris Mr. Djaidin Purba.

Selain Dewan Pimpinan Yayasan, Organisasi USU pada awal berdirinya terdiri dari: Dewan Kurator, Presiden Universitas, Majelis Presiden dan Asesor, Senat Universitas, dan Dewan Fakultet.

Sebagai hasil kerja sama dan bantuan moril dan material dari seluruh masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa Aceh, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa diantaranya dua orang wanita.

usu_mhs_angkatan_pertama.jpg

Mahasiswa Angkatan Pertama

Kemudian disusul dengan berdirinya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1954), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956), dan Fakultas Pertanian (1956).

Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia.

Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I. Kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960) di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, USU terdiri dari lima fakultas di Medan dan dua fakultas di Banda Aceh.

Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982), Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), dan Fakultas Farmasi (2007).

Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun 2000. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).

Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian disusul berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setelah itu, berdiri Politeknik Negeri Medan (1999), yang semula adalah Politeknik USU.

Pengikut